SELAMAT DATANG DI RAD TATTOO.
Tato, Antara Seni, Gaya, Hingga Sikap Politik
Sejak ribuan tahun silam manusia di bumi ini sudah menandai tubuhnya dengan tato. Berbagai kebudayaan dunia seperti di Mesir, Cina, Indian, Samoa, Maori, Burma, Thailand, hingga Mentawai, mereka merajah tubuhnya, dengan teknik yang masih sederhana.
Mengulik sejarah tato, dicatat dari ‘The American
Heritage Desk Dictionary’ oleh Hatib Abdul Kadir Olong, dalam bukunya,
‘Tato’. Konon kata tato berasal dari bahasa Tahiti yakni “tattau” yang
berarti menandai. Tubuh ditandai dengan menggunakan alat berburu yang
runcing untuk memasukkan zat pewarna di bawah permukaan kulit.
Kata tattau tersebut dibawa oleh Joseph Banks yang pertama kali
bersandar di Tahiti pada 1769. Ia mencatat berbagai fenomena manusia
Tahiti yang tubuhnya dipenuhi oleh tato. Sedangkan dalam bahasa Mentawai
tato disebut dengan Titi.
Titi adalah identitas atau tanda pengenal bagi tiap orang atau suku di Mentawai dan merupakan busana abadi.
Olong yang seorang Antropolog, menuliskan, manusia zaman dulu menggunakan teknik manual dan bahan tradisional. Seperti orang Eskimo memakai tulang binatang, suku Drung di Cina yang menggunakan sebilah bambu, hingga kaum Budha di kuil Shaolin yang menggunakan gentong tembaga yang telah dipanaskan untuk mencetak gambar naga pada kulit tubuhnya.
Hand Tapping Tato tradisional jualah yang kemudian memincut hati seorang Aman Durga Sipatiti, seniman tato. Sebelumnya Durga (40) melanglang buana ke Jerman sebagai seorang desain grafis.
Sarjana Desain Komunikasi Visual dari Institut Seni Indonesia di Yogyakarta ini, bercita-cita menjadi seorang tattoo artist sejak tinggal di Berlin. Hingga akhirnya, pada tahun 2007 Durga benar-benar total belajar tato.
Ia mendapat kesempatan menjadi apprenticeship atau berguru di bawah
bimbingan Sua Sulu’ape Freewind. Gurunya itu adalah salah seorang master
dunia tato tribal dan tato hand tapping di studio Black Wave Tattoo di
Los Angeles, California.Titi adalah identitas atau tanda pengenal bagi tiap orang atau suku di Mentawai dan merupakan busana abadi.
Olong yang seorang Antropolog, menuliskan, manusia zaman dulu menggunakan teknik manual dan bahan tradisional. Seperti orang Eskimo memakai tulang binatang, suku Drung di Cina yang menggunakan sebilah bambu, hingga kaum Budha di kuil Shaolin yang menggunakan gentong tembaga yang telah dipanaskan untuk mencetak gambar naga pada kulit tubuhnya.
Hand Tapping Tato tradisional jualah yang kemudian memincut hati seorang Aman Durga Sipatiti, seniman tato. Sebelumnya Durga (40) melanglang buana ke Jerman sebagai seorang desain grafis.
Sarjana Desain Komunikasi Visual dari Institut Seni Indonesia di Yogyakarta ini, bercita-cita menjadi seorang tattoo artist sejak tinggal di Berlin. Hingga akhirnya, pada tahun 2007 Durga benar-benar total belajar tato.
Ibaratnya, saat itu Durga ‘nyantri’ tanpa mengerjakan hal lain di luar tato. Pertengahan 2008, sekembalinya dari Amerika Serikat dia membuka studio Durga Tattoo di Jakarta.
tags:
- antara tato tradisi dan politik
- mesir tatoos 2013
- seni tato
- tato
- tato tradisional indonesia
